Minggu, 22 Mei 2011

Ku Yakin Sampai disana



Di tengah banyak orang complain, kritik, tidak puas, kecewa dan protes atas kinerja 100 hari pemerintahan SBY yang dianggap gagal total, SBY dengan gembira bernyanyi “Ku Yakin Sampai di Sana”.
Saya tidak ingin ikut-ikutan membicarakan kinerja 100 hari pemerintahan SBY yang diwarnai drama century, perseteruan KPK-Polisi-Kejaksaan, mobil mewah para menteri, imajinasi pembunuhan atas dirinya dan pesawat kepresidenan. Karena saya yakin kita sudah bisa membedakan dengan jernih mana komitmen mana yang sekedar retorika, mana keseriusan dan ketulusan mana yang sekedar pencitraan.
Yang ingin saya bicarakan adalah judul lagu yang baru saja di launching SBY yang menurut saya menarik. Karena berisi semangat, keyakinan dan optimisme yang semestinya dimiliki oleh setiap orang yang ingin mencapai sesuatu yang diinginkan. Keyakinan adalah teman setia yang akan membawa kita pada suatu tempat yang kita cita-cita kan.

Sementara keraguan, kebimbangan apa lagi keyakinan akan ketidakmampuan adalah teman setia mereka yang tersisih dan tertinggal. Sejauh dan sesulit apapun jarak yang kita tuju, jika keyakinan menemani perjalanan kita maka insyaAllah kita akan sampai sepanjang syarat-syaratnya terpenuhi. Tentu keyakinan menjadi tak berguna tanpa tindakan dan perbekalan yang cukup untuk bisa sampai tujuan.
Kita mungkin sering mengalami situasi dimana keinginan kita menjadi bahan tertawaan orang, atau situasi dimana banyak orang meragukan kemampuan kita. Mungkin kita menjadi kecewa dan berkecil hati, mungkin juga kita menerima rasionalitas orang-orang yang meragukan kita dan pada akhirnya kitapun berkata “ya..ini terlalu sulit” atau “ya..ini tak akan mungkin”.
Sehebat apapun kita, seterkenal apapun kita, seahli apapun kita, sesungguhnya kita tidak akan pernah terbebas sama sekali dari keraguan orang. Meski banyak orang yakin akan kompetensi kita, selalu saja ada orang yang mungkin meragukan kita.
Dan ini hal yang biasa yang pasti dialami oleh semua orang. Bahkan Nabi Musa yang telah berkali-kali membuktikan kemampuannya menolong kaumnya menghadapi Fir’aun tetap masih diragukan oleh kaumnya.
Suatu hari ketika Musa dan pengikutnya berlari dari kejaran Fir’aun dan pasukannya, mereka terjebak di pinggir laut merah. Musa dan pengikutnya dalam situasi yang terjepit. Di depan terhampar laut luas tanpa perahu sementara di belakang Fir’aun dan pasukannya semakin mendekat.
Sungguh situasi yang sulit, dimana secara logika tak ada tempat lagi untuk melarikan diri. Dalam keadaan sulit dan terjepit tersebut apa yang terjadi pada pengikut Musa?
Meski Musa pernah menunjukkan kesaktian tongkatnya yang dapat berubah menjadi ular besar dan mengalahkan semua ular-ular ciptaan ahli-ahli sihir Fir’aun, tetap saja pengikut Musa ragu, tidak percaya bahwa Musa akan menemukan jalan keluar untuk menyelematkan mereka. Bahkan pengikut Musa yakin bahwa Fir’aun dan pasukannya akan berhasil menangkap mereka.
Bayangkan, di tengah situasi sulit dan terjepit, bukan musuh-musuhnya, bukan pesaing-pesaingnya, bukan orang-orang yang sakit hati dengan Musa yang meragukan kemampuannya, melainkan teman-temannya sendiri, pengikut-pengikutnya, orang-orang dekatnya sendiri yang meragukan kemampuannya.
Musa adalah contoh dari sebuah keyakinan. Musa tidak menjadi ragu karena keraguan orang-orang dekatnya sendiri. Musa yang terjepit diantara lautan dan pasukan Fir’aun, Musa yang dikelilingi oleh orang-orang yang pesimis justru dengan mantap dan penuh keyakinan berkata: “Tidak mungkin… Sesungguhnya bersama saya ada Allah, Dia pasti menunjukkan jalan keluarnya” (QS As-Syu’ara’ : 61 -62).
Dan kita semua tahu akhir dari cerita Musa. Keraguan orang lain tidak membuatnya ragu untuk sampai tujuan. Keyakinannya yang kuat bahwa Allah selalu bersamanya, dan bahwa Allah pasti menunjukkan jalan keluar telah membawa musa sampai ke seberang lautan dan menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya.
Biarlah orang lain meragukan kita, tapi janganlah sekali-kali kita menjadi orang pertama yang meragukan kemampuan kita sendiri. “Allah sesuai dengan prasangka hambanya”, begitu Nabi Muhammad pernah berkata.
Keyakinan diperlukan sebagai syarat mencapai kesuksesan. Begitu juga dengan keyakinan kita pada Islam, pada prinsip-prinsipnya, pada janji-janji ajarannya, pada manfaatnya dalam segenap aspek kehidupan kita, kita sama sekali tidak boleh ragu.
Islam datang dari Allah swt sebagai rahmat, sebagai penyembuh dan sebagai jalan keluar bagi seluruh persoalan kehidupan, oleh karenanya tidak pantas kita meragukan konsep-konsepnya. Tidak pantas kita meragukan kemampuan Islam sebagai solusi.
Mereka yang ragu Islam bisa dibawa ke panggung politik maka tidak akan pernah bisa menerapkan Islam dalam dunia politik. Mereka yang ragu Islam bisa compatible dengan dunia bisnis maka tidak akan pernah sampai mereka pada ketentraman berbisnis dengan cara Islam.
Mereka yang ragu Islam bisa memperbaiki pemeritahan, bisa menciptakan Good Government, maka tidak akan pernah ada pemerintahan yang Islami yang tercipta. Karena selalu saja ada alasan untuk melegitimasi ketidakyakinan kita untuk menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan kita.
Kita yang masih kecil jumlahnya lah, kita yang poweless lah, masyarakat yang belum siap lah dan lain sebagainya hanyalah sekedar alasan-alasan yang kita ciptakan untuk melegitimasi ketidakyakinan kita sendiri atau sekedar alasan untuk menutupi ketidakmampuan kita sendiri.
Ditengah situasi politik dan ekonomi yang carut marut, ditengah situasi pasar yang tidak pasti, mari kita menanamkan kepastian pada diri kita sendiri. Mari kita membangun keyakinan yang kuat bahwa Islam adalah solusi bagi kehidupan kita baik secara pribadi, masyarakat maupun negara. Semoga bukan Cuma SBY yang bisa berkata “Ku Yakin Sampai di Sana”, melainkan juga kita semua.



Sumber : http://muliaok.wordpress.com/2010/04/05/ku-yakin-sampai-disana/

... dipenghujung malam, dikala hujan masih membasahi bumi ...


setelah rangkaian cerita  yang panjang hari ini… ku merenung. ternyata waktu berlalu begitu cepat, banyak hal yang belum kulakukan.teringat  pertanyaan yang pasti akan kujawab kelak…
“Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
“Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
“Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?
Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain.
Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.
Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.




kemudian ku merenung lagi,
Berapa umurmu sekarang???
sebuah pertanyaan singkat dan simpel bagi sebagian besar orang. namun orang- orang yang berpikir besar akan terhenyak ketika mendengar pertanyaan itu,,,
Jikalau Allah mau,, maka  bisa saja Dia  merekayasa hidupmu menjadi selamanya muda untuk berfoya- foya,,, namun memang hidup ini ternyata dipenuhi dengan keadilan dimana setiap manusia memiliki jatah usia,,,
Kini pertanyaan baru muncul,,, “kau gunakan apa saja hidupmu???”
Maka orang dengan pemikiran besar akan menjawab,,, “Hidup ini telah kurangkaikan dengan mimpi yang besar yang kurancang sejak dulu,,,”
Aku ingin bisa lebih hebat dari Umar bin Khatab yang bisa menjelajahi 2/3 belahan bumi untuk menyebarkan Islam hanya dalam 3,5 tahun masa pemerintahannya..
Aku ingin bisa lebih hebat dari Sholahuddin al-ayyubi yang bisa menaklukan jerussalem tanpa pertumpahan darah..
Aku ingin bisa lebih hebat dari M. Natsir yang telah berdebat dengan Soekarno saat ia masih 22 tahun..
Aku ingin lebih hebat dari  Jenderal Soedirman yang merangkaiakan jejak perjuangan sejak usia muda hingga  wafat.
“lalu pertanyaan baru muncul,, apa itu mimpi yang besar?”
“mimpi yang besar adalah saat seorang manusia berani bermimpi besar, sebuah mimpi yang berbeda dari orang lain, dan bermanfaat luas bagi orang banyak” …
“Hanya itu?”
“Iya,,, Namun hanya orang- orang yang memilki narasi besar  yang mampu mentransformasikan mimpinya kedalam kehidupan nyata… Hanya orang bernarasi besar yang mampu mengajak orang lain mengikuti mimpinya dan hanya orang bernarasi besar yang mampu memberi manfaat kepada orang banyak dengan mimpinyaMembetuk sebuah sejarah baru di muka bumi ini”””


Sumber : Klik Ini

Sabtu, 21 Mei 2011

Keyakinan dan Kesabaran

Bismillah...


Keyakinan, adalah kesederhanaan. Sebuah kesederhanaan yang lahir dari kuatnya jiwa dan karakter seseorang. Keyakinan juga yang membuat Rasulullah, tak pernah berhenti berdo’a untuk penduduk thaif meski lemparan batu, hinaan hingga penolakan terhadap beliau bersama risalahnya. Keyakinan juga yang menumbuhkan kecintaan yang membara seorang Khalid bin Walid dengan dinginnya malam ketika perang dibanding bermesraan bersama seorang gadis cantik. Keyakinan pula yang membuat Ali bin abi Thalib dengan berani menggantikan Rasulullah ketika beliau hendak dibunuh oleh kaum Quraisy. Keyakinan itu tumbuh.. kuat mengakar.. Lahir dari keluhuran budi, kokohnya karakter, dan bersumber dari dentuman cinta mengabadi yang tak pernah padam untuk Allah dan jihad di jalan-Nya. Keyakinan adalah teman setianya gairah yang selalu bersumber dari cinta. Keyakinan adalah kekuatan yang takkan pernah habis untuk selalu memberi energi bagi jiwa untuk menunggu, “membangun”, menguatkan, hingga berbagai defenisi tindakan yang terkadang tak bisa diterima oleh akal. Keyakinan hadir seperti sumber cahaya, ia adalah sumbu lilin yang terus terbakar, ia adalah sumbu sinaran yang menjadi alat untuk memberikan ruang terangnya.



Jika keyakinan adalah alasan terbesar seseorang untuk bertahan. Maka pasangan jiwanya adalah kesabaran. Kesabaranlah yang membuat orang untuk terus bersama dengan keyakinannya. Jika keyakinan adalah sumbu untuk memberikan cahaya, maka kemampuan untuk menerangi selama mungkin adalah sebuah defenisi sederhana tentang kesabaran. Kesabaran selalu menghasilkan berjuta pesona bagi sejarah. Bagaimana Sayyid Qutb lebih memilih untuk bersabar bersama dengan siksaan penjara di zamannya, kesabarannya-lah yang membuat cerita jihad menggelora di dalam dada jutaan pejuang di seantero mayapada. Bagaimana Yusuf AS, yang lebih memilih penjara agar mampu terus mengenal-Nya. Bagaimana sumayyah meneladani semua wanita dengan semangat jiwanya untuk terus bersabar menahan siksaan kaum kafir hingga menjadi syuhada pertama dalam Islam. Mereka adalah karakter-karakter yang menyejarah.. selalu indah untuk dikenang.


Gabungan antara keyakinan dan kesabaran akan menghasilkan semangat yang takkan pernah padam. Keberanian akan menjadi temannya, kesolehan akan menjadi pakaian mereka, kebeningan hati akan selalu mengisi hidup mereka, dan hasilnya… Karya-karya besar bagi peradaban akan tercipta dari segala bentuk usaha mereka.
Yakinlah… bahwa Allah takkan pernah menyia-nyiakan segala usahamu.. Bersabarlah, hingga kelak… Ketika sabarmu telah habis masanya.. Perbahuilah terus ia dengan sebuah KEYAKINAN… Bahwa Allah takkan pernah membuatmu kecewa…


 
O Allah, I wanna thank you

I wanna thank You for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
I wanna thank You for bringing me home

Alhamdulillah, Elhamdulillah

All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Elhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.
-Maher Zain-


Sumber : http://almuhandis.wordpress.com/2010/04/09/keyakinan-dan-kesabaran/#more-750

Minggu, 15 Mei 2011

Siapakah dia...???

"Beethoven Virus" itu yang buat bangga lihat korama itu, takjub gak percaya, drama yang buat semangat sampai saat ini. Ketemu sama tokoh yang bernama "Maestro" yang gak disangka, gila sadis banget, sadis tingkat tinggi, maunya serba perfectionist. Tapi keren juga, sosok seseorang yang berumur 40 tahun, wawasannya luas dan serba tahu, keren banget deh !!! Adakah sosok nyata seperti itu, kalau ada aku mau ketemu, dan mungkin aku akan jadi sosok "Kang Gun Woo muda" hehehe... Maestro Kang  =')
Dan yang paling aku sebel, saat bilang, "Mau banget ketemu sosok Maestro", dan ternyata kedengaran adeku, dan dia bilang dengan santainya, "Ngapain kak mau ketemu dia, wong kakak sadisnya juga sama kaya dia". Aaarrgghhhh... menyebalkan !!! ='(

Tetapi sayang sosok itu hanya fiktif, hanya ada dikorama itu aja, tetapi sosok "Kim Myung Min". Hmm... aku banget mau banget, tapi dengan sangat kecewa dia sudah menikah dan memiliki seorang anak lelaki yang bernama "Jae-Ha". Beruntungnya punya ayah seperti Kim Myung Min, tetapi apapun yag telah Maha Kuasa berikan kita patut bersuyur atas nikmatnya, ya walau sekedar kagum tapi sungguh aku kagum banget sama sosoknya, keren banget.

Suka banget sama Maestro Kang. Pertama tahu sosok "Maestro", waktu telusuri status temen di FB, eh ada status temen ku yang bilang, "Demam Beethoven nih, Kim Myung Min". Saat itu aku telusurin deh lewat m'bah google, ternyata sosoknya ahhh biasa aja, terus aku tanya temenku itu ada distasiun TV mana, ya terus aku pantengin deh nonton, tapi pas aku nonton itu ada sosok yang beda banget dari orang kebanyakan, ini orang auranya angker banget ya, nyebelin banget, dia gak ganteng, tua juga. Tapi sekarang-sekarang ini aku malah jadi takjub dan kagum dengan sosok "Maestro". Walau dia agak angker tapi wawasannya luas, gak banyak omong juga, dan terutama dia lebih suka yang perfectionist, keren deh... tapi sadisnya gak ada yang ngalahin hihihiii...

Ku juga saat mau nge-net yang biasanya buka FB, sekarang lebih suka buka youtube, buat liat gambarnya dia atau cari kabar terbaru tentangnya, Maestro gak ada yang tandingin, dan temen aku sempet bingung dan tanya, kamu aneh deh orang kaya gitu disukain. Ya gimana ya, tiap orang berbeda dan gak akan ada yang sama hehehe...


Maestro Kang Gun Woo






Ketika Keikhlasan Itu Datang

Tangisku pecah, memasuki kamar kosku. Seperti berada dalam pelukan ibuku. Kamar tempatku menumpahkan segala rasa. Kamar tempatku merancang mimpi dan merajut asa. Disini aku bisa menangis sepuasnya. Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau, termasuk menangis dengan tangisan paling menyayat seumur hidupku, begitulah aku mengistilahkannya. Kumatikan ponsel dan semua akses komunikasi. Aku tidak ingin bicara dengan siapapun, karena tak akan ada yang mengerti perasaanku saat itu.
Aku menangis, menjerit, memecah kesunyian, dan menumpahkan semua beban yang membuncah di dadaku. Tak satu pun orang di rumah kos ini. Hanya aku dan Tuhanku. Tuhanku? Kenapa aku bisa melupakannya…Tuhan tempatku bergantung. Tuhan tempatku bermohon, Allah tempatku berbagi.
Setelah hampir satu jam menangis, aku mulai merasa lelah. Seiring suara azan Isya dari masjid sebelah, aku mencoba bangkit. Berwudhu, membasuh wajahku, menyeka sisa air mata yang menempel di pipiku.
Rabb, nikmat Engkau yang mana lagi yang akan hamba dustakan?
Kenapa aku harus menyayat sedemikian menyayat padahal aku masih bisa merasakan dinginnya air wudhu membasahi permukaan kulitku. Setelah itu kuhadapkan diri pada Rabb-ku. Sholat Isya. Allahu Akbar…Maha Besar Allah yang telah menciptakan ujian dan cobaan dalam hidup. Mungkin inilah shalat terbaik dalam hidupku. Sholat dalam keadaan ingatanku akan kematian teramat kuat. Inikah shalat terakhirku?
Kenapa harus aku? Cukup kuatkah aku menjalaninya? Mampukah aku hidup tanpa mimpi dan asa?
Ingatanku kembali pada kejadian siang tadi saat berjalan sendiri melewati lorong-lorong sepi di salah satu rumah sakit. ini hari ke-6 aku menjalani rangkaian pemeriksaan tubuhku di rumah sakit. Keluhan anemia, mual muntah, hipertensi, dan asam urat tinggi kembali terngiang di kepalaku. Hari ini adalah penentuan, sakit apa aku sebenarnya.
Dengan tegap kulangkahkan kakiku menuju ruang periksa dokter spesialis ginjal dan hipertensi. Dengan tenang aku duduk di depan dokter sambil menyerahkan hasil-hasil lab yang jumlahnya sudah tak terhitung lagi.
saat selesai membaca hasil labku yang terbaru, tiba-tiba dokter itu menatapku dalam. Aku hanya tersenyum. Dia menatapku semakin dalam. Tak lama kemudian, meluncurlah kelimat panjang yang seolah menjadi pengantar bayanganku tentang sesuatu : …..KEMATIAN!!!
“Kamu punya Askes? Kerja dimana? Ada jaminan kesehatan nggak? Dengarkan baik-baik, kamu harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Satu kali cuci darah 600.000 rupiah. Artinya, kamu harus sedia uang minimal 4.800.000 rupiah setiap bulan. Kalau tidak, kamu akan mengalami komplikasi penyakit sampai koma dan bisa berakibat pada kematian, gimana?”
Aku perempuan berusia muda, yang datang sendiri ke rumah sakit dengan keyakinan bahwa penyakitku masih bisa di obati dengan minum obat secara rutin, tiba-tiba mendengar istilah baru bernama cuci darah.
Ya Tuhan, apa lagi ini? Jenis pengobatan macam apa ini? Mengapa begitu mahal? Apakah tidak ada alternatif lain? Sudah sedemikian parahkah penyakitku ini?
Segala hal tentang kematian tiba-tiba menggantung di pelupuk mataku. Kucoba menahan bulir bening itu turun dengan mengangkat wajah sambil menatap gambar-gambar yang menempel di dinding. Tidak mungkin aku menjalani cuci darah yang sedemikian mahal. Membayangkannya pun bahkan aku tak sanggup. Yang terngiang di telingaku hanyalah ungkapan sang dokter : Cuci Darah atau Mati!
Dan sampai kini ingin sekali kukatakan “Dokter, tidak bisakah Anda memberi sedikit harapan kepada seseorang yang harus menghadapi kematian ketika teman-temannya sedang merajut mimpi tentang masa depan?”.
Tiba-tiba ada suara keras yang memekakkan telingaku, “IKHLAS!!” Ya, hanya itu. Entah dari mana. Apakah itu suara nuraniku atau jawaban dari pertanyaanku? Aku tak pernah tahu. Yang jelas satu hal yang aku rasakan saat itu, ada kekuatan yang mendorongku untuk berkata, “Rabb, apapun yang akan terjadi, apapun yang harus hamba jalani, hamba ikhlas.”
Ada kekuatan besar yang mampu mendorongku untuk berhenti menangis, berhenti bertanya. Aku mencoba sendiri, lebih banyak mengingat Allah, mencoba memaknai sabar dan ikhlas yang tak terbatas.
Selembar kertas yang bertebaran di meja segera ku raih, jemari lentikku kembali menggerakkan pena..
Hari ini ku ingin sampaikan padamu tentang ikhlas…
Sungguh, Kesabaran itu tak pernah berbatas..
Yakinkan dirimu bahwa tak akan ada kata “Kesabaranku sudah habis” keluar dari mulutmu
Karena ikhlas itu tak pernah boleh berakhir…
Yakinkan dirimu bahwa tak pernah ada kata “Aku sudah tak sanggup lagi” mengalir dalam bibirmu
Karena tugasmu sebagai Abdi Rabbmu..tak akan pernah selesai
Yakinkan dirimu bahwa Rabb-Mu Maha Adil
Yakinkan dirimu bahwa engkau mencintai-Nya..
Yakinkan dirimu bahwa engkau mati hanya untuk-Nya..
Yakinkan dirimu bahwa tak pernah ada sesuatu dan seseorang dalam hatimu kecuali DIA.
Dan akhirnya…keikhlasan itu pun hadir….
Ketika kehendakmu tak sejalan dengan kehendak-Nya…
Biarkan kehendak-Nya yang berjalan atas hidupmu
Karena kehendak-Nya adalah kebaikan untukmu
Ketika inginmu tak sesuai dengan ingin-Nya
Biarkan ingin-Nya menjadi skenario terbaik bagi hidupmu
Karena Dia Mahatahu segala hal tentang dirimu..
Biarkan tangisan mengobati kekecewaanmu
Bukan kecewa pada Robb-Mu..
Tapi kekecewaan pada dirimu sendiri
Karena tak mampu berdiri diatas ingin-Nya..
Hidup harus terus dijalani, Sholehah terkasih…
Semenyakitkan apapun
Siap ataupun tidak
Karena Rabb-Mu tidak pernah butuh persetujuanmu atas setiap kehendak-Nya..
(Didedikasikan untuk saudari saya semoga Allah mengangkat penyakitmu secepatnya, dengan kesembuhan yang tiada sakit setelahnya…)

Sumber terkait : http://www.dakwatuna.com/2011/03/11588/ketika-keikhlasan-itu-hadir/