Jumat, 30 September 2011

Curahan Hati Seorang Muslimah




Duhai engkau, begitu sangat ku merindukanmu, tetapi begitu besar pula kebimbaganku ini. Kebimbangan dan kegalauan yang menderaku ini.
Apakah engkau yang sosok yang telah ALLAH berikan untukku…?
Apakah engkau yang akan menjadi imam dimasadeoanku nanti…?
Apakah engkau yang akan menjadi pelindungku kelak…?
Apakah engkau seorang ayah dari anak-anakku nanti…?
Apakah engkau seseorang yang akan membimbingku kejalan-Nya…?
Apakah engkau yang akan membantu mendidik anak-anakku kelak, agar menjadi panji-panji terbaik…?
Apakah engkau pelengkap keimananku nanti…?
Apakah dan apakah…?
Begitu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadamu, dan kepada-Nya. Apakah aku satu-satunya yang ada dihatimu, atau ada yang ke-2, ke-3 dan yang lainnya…?
Bila memang aku adalah seseorang yang kesekian kalinya, sungguh ku tak ini dan ku tak mau, lebih baik cukupkan sampai di sini. Duhai Rabbi… hanya Engkau yang tahu isi hatinya dan hanya Engkau siapa dia.
Ya Rabbi… senantiasa genggamlah aku, peluklah aku se’erat mungkin, tuntunlah aku, dan bimbinglah aku, agar ku dapat mengetahui mana yang terbaik untukku ini, untuk masa depanku kelak. Bilamana ia adalah pelengkap keimananku maka segera persatukanlah kami dalam tali rahmat dan cinta kasih karena-Mu. Tetapi bilaman ia bukanlah pelengkap keimananku, maka jauhkanlah kami, jauhkan sejauh mungkin. Dan lapangkanlah hati hamba, hilangkalah segala rasa kegalauan, keresahan, kegelisahan, keresahan dan kebimbangan dihati hamba ini. Berikanlah ketenangan pada hati hamba ini Ya Rabbi. Hanya itu pintaku Ya ALLAH, berikanlah petunjuk-Mu.

Allahuma’aamiin…



Kamis, 22 September 2011

Teringat dan Mengenangmu


Sudah beberapa minggu semenjak kepergian ciki, kepergian yang mendadak dan tiba-tiba, dan saat dijumpai dia sudah terbujur kaku dalam kondisi tertidur, entah kau pergi karena apa dan oleh sebab apa, bulan puasa kau pergi tanpa tanda-tanda yang berarti. Aku rindu akan pola lucu mu ciki, ku sangat menyayangimu, seharusnya ku mendengarkan ibu, agar tidak memelihara hewan, dan jadinya seperti ini. Ku terlanjur sayang kamu, tapi kamu pergi dari hidupku. Kini hanya cilo yang tinggal di akuarium yang membisu tapa kehadiranmu, entah ku ingin sekali mencari penggantimu, tapi ku takut penggantimu itu pergi lagi seperti kamu.
Huhh... Ciki semoga kau bahagia disana, ku rindu suara cicitan mu saat bercanda dengan cilo, ku juga menrindukan gigitan mu di jemariku, ku rindu saat-saat kamu berebut makanan dengan cilo yang ku berikan, dan ku rindu saat ku berbuat usil kepadamu. Hahh... kini semua itu hanya tinggal kenangan dan sebuah memori yang tak akan pernah terlupakan olehku.
Ciki maafkan aku karena aku tak menjaga kamu dengan baik  :’(  hikss... hikss... hikss...
Dan Gil Ra-Im juga pergi, apakah aku memang tak boleh memelihara hewan apapun, baik kucing juga. Ra-Im... maafkan aku ya karena kamu harus dibuang ibu, kamu kurus sekali saat keluar rumah sekarang ( itu saat pertama bertemu setelah Ra-Im dibuang ), tidur dimana kamu ? sudah makan atau belumpun ku juga tak tahu, itu hanya menjadi memori saat-saat kehadiranmu, di saat bulan puasa  :’(
Hal yang tak pernah terlupakan adalah disaat kamu ikut berpuasa, ikut berbuka, ikut sahur pula, bercanda dengan kamu, dan main dengan kamu. Ra-Im... aku rindu kamu. Kamu dimana sekarang ??









Senin, 22 Agustus 2011

it's Me

Liburan sudah dijalani selama kurang lebih mau 4 minggu setelah ujian, lama banget liburan kali ini, sampai-sampai bosen dirumah terus. Liburan cuma di isi sama habisin DVD serial drama korea, yang sampe nangis-nangis, ketawa-ketiwi dan termenung. Terus online mulu deh yag namanya FB sama twitter gkgkgkkk...
Cuma itu kegiatannya selama liburan, membosankan atau malah menyenangkan ya ??

Dan lebaran hanya tinggal menghitung hari, Horree !! Lebaran telah tiba... lebaran telah tiba... hatiku gembira...
hahaha... lebaran di nanti, padalah udah gede tapi masih aja ngarep buat dapet amplopan dari orang tua dan kerabat hehehe... Terus banyak makanan juga, dan ada makanan yang ada cuma setahun sekali yaitu KETUPAT. Dan pasti pertanyaan andalan dari orang-orang yang bersilaturahmi akan siap-siap ku jawab, dan gilaaa sampe hapal aku ini.

"Udah besar ya, kapan mau nikah ?" ----> Pertanyaan dari tetangga disebelah rumah
"Wah Nina sudah gadis, kapan nih mau nikah ?"  -----> Pertanyaan dari tetangga juga
"Cah Ayu kapan kamu nduk mau nikah ? sudah besar toh kamu"  ----> Pertanyaan dari nenek yang ada disebelah rumah

Pertanyaan itu selalu ku ingat, wong tiap lebaran ditanyainnya itu hadeuuuhh...  >_____<
tapi senang juga ada yang sampe perhatian segitunya hehehe...


Sabtu, 18 Juni 2011

Hari Esok... Apakah Aku Masih Hidup ?


Jika aku masih hidup esok hari
Masihkah kau mencintaiku
Disaat diriku sendiri terpuruk dalam tanya
Tentang siapa diriku dan adanya dirimu
.
Jika aku masih hidup esok hari
Sanggupkah kau mencintaiku
Takkala dirikupun ragu untuk bisa membahagiakanmu
Karna ku tak yakin aku telah bigitu
.
Jika aku masih hidup esok hari
Buatlah aku yakin telah memilihmu
Seorang wanita yang mau bersamaku
Dan membuatku bertanya tentang semua suka diri
.
Mungkin pernah kujanjikan setangkup keindahan
Takkala kita mengarungi sebuah kehidupan
Dan yakinlah sampai saat inipun aku masih begitu
Hanya sebuah pembuktian rasanya jauh dia angan
.
Maafkan aku jika telah mempertanyakannmu
Dan lebih lagi tentang dalamnya pikiranku
Dan tolonglah aku untuk tetap menatap satu untukmmu
Bahwa esok hari aku-pun tetap mempertanyakanmu
.
Jika aku masih hidup esok pagi
Maukah kau ucapkan sekali lagi
Janji yang kita bina dahulu sekali
Yang ingin kutetapkan sekali lagi
.
Dan jika aku masih hidup esok pagi
Bangunkalah diriku dari sunyinya hati
Hangatkanlah hariku dengan sebuah arti
Dan kuatkan diriku untuk tidak berhenti
.
Jleb!rasanya ga bisa digambarkan.melihat manusia merancang hidup ke depan,terus optimis.diantara jadwal-jadwal yang kita tulis,ada “jadwal tak terdeteksi”,jadwal yang hanya Allah yang tau,jadwal yang sudah dari awal kita diciptakan sudah ditulis,jadwal yang ditulis dengan “pena khusus”,JADWAL KEMATIAN..

Hidup dan mati,
Kemaren saya hidup,saat ini saya hidup,tapi saya tidak tahu,nanti,besok,lusa..
Sekarang ikhtiar sebanyak mungkin,berusaha menjadi baik dan tambah baik..

Ya Allah,jika saat itu “jadwal” ku telah sampai,
Cukupkan aku Ya Allah,
Aku siap,iman,islam..
Aku baik,ikhlas dan taubat..
Aku meminta,dengan penuh doa ku mohonkan jalan yang baik..
Penuhkan hatiku dengan rasa cintaku pada Mu,Ya Allah,Ya Rabb..
Amin..

………..
Hidup..jodoh ku pada mu sedang ku jalani,tapi jodoh ku pada mati adalah pasti..






Duhai Tuhan Yang Mahabaik, yang menambatkan keyakinan di jiwa yang putih, yang melembutkan nuansa rasa, yang menguatkan taji-taji imajinasi.

Jika aku masih tetap hidup esok pagi, aku berjanji, apabila Engkau perhebatkan aku, Engkau permuliakan aku, Engkau tempatkan aku di aras utama tempat Semesta bekerja, aku bersungguh-sungguh berkuat upaya membuat Engkau tersenyum.

Jika aku masih tetap hidup esok pagi, akan aku cukupkan hari-hariku untuk
melayani dan membawa kualitas-kualitas ilahi ke bumi.

Jika aku masih tetap hidup esoknya lagi, aku akan berlayar menyebrangi samudera waktu untuk membenarkan semua ketulusan kasih sayang yang Engkau sambungkan ke dalam mata rantai suci para nabi.

Duhai yang Mahatahu, yang membelah sunyi, biarlah aku bawa tangisanku pergi
jauh bersama cinta-Mu.

Terima kasih Allah, Engkau selalu membukakan angkasa pemikiran baru di jiwaku.



Ya Illahi…
Peganglah tanganku,…

Ajaklah kedalam keridhoan-Mu
Biarkan aku tetirah disana,
Karena….
Hanya ridho-Mu semata
Yang selalu kudamba
Dalam setiap ibadahku.

Ya Illahi…
Raihlah kalbuku….

Rendamlah kedalam telaga cinta-Mu
Biarkan aku terpejam disana
Karena….
Tiada yang lebih aku cintai
Selain Engkau, Rabbku….

=====oo0oo=====

Rabu, 15 Juni 2011

Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana


Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.
Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.



Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.
”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.



Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.
Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.
Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
For vieny, welcome to your husband’s heart.
*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.



Sumber : http://ceritacinta.net/2007/11/01/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/